Tetap Waspada, Bencana Hidrometeorologi Meningkat 2011
Kamis, 30 Desember 2010
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa bencana hidrometeorologi atau bencana diakibatkan oleh cuara diperkirakan meningkat pada 2011.
Masyarakat harus mewaspadai kemungkinan meningkatnya bencana karena cuaca itu, khususnya dalam bulan Januari hingga Maret 2011, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam acara "Catatan Akhir Tahun 2010" di Jakarta, Kamis.
Sutopo mengatakan, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang timbul dari cuaca seperti hujan yang bisa mengakibatkan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, serta angin puting beliung.
"Hal itu disebabkan adanya anomali cuaca dimana berdasarkan perkiraan dari berbagai lembaga meteorologi terkemuka di dunia seperti NOAA, Jamstec, BoM serta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, curah hujan di Indonesia akan berada diatas normal hingga Maret 2011."
Dia juga menambahkan indikasi dari menguatnya La Nina, Dipole Mode, dan kenaikan suhu muka air laut di perairan Indonesia menyebabkan suplai massa uap air di atmosfir berlimpah sehingga hujan berpotensi terjadi diatas normal.
Sementara untuk bencana geologi seperti gempa dan tsunami BNPB menyatakan belum ada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa memprediksinya.
"Trennya masih bencana hidrometeorologi, sementara gempa dan tsunami belum bisa diprediksi kemungkinan terjadinya di tahun 2011," katanya.
repost,COPYRIGHT © 2010,source:(W004/A041/S026)
Tampilkan postingan dengan label GLOBAL WARMING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GLOBAL WARMING. Tampilkan semua postingan
Indonesia Terancam Tidak Dapat Dana Pasar Karbon
Indonesia terancam tidak mendapatkan dana dari pasar karbon sukarela (voluntary market) apabila Protokol Kyoto yang mewajibkan negara maju menurunkan emisi tidak diberlakukan kembali.
"Indonesia bisa tidak dapat dana tambahan perubahan iklim dari pasar. Hanya bisa mendapatkan dana dari bantuan jalur cepat (fast track financing) atau pinjaman internasional dengan bunga rendah," kata Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Lingkungan Global dan Kerja Sama Internasional, Liana Bratasida disela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (COP) ke-16 Perubahan Iklim dari Badan PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Cancun, Meksiko, Senin.
Liana yang merupakan anggota Delegasi RI (Delri) dalam KTT ke-16 Perubahan Iklim menyatakan hal tersebut menanggapi pernyataan Jepang dan Rusia yang tidak mau melanjutkan komitmen penurunan emisi karbondioksida sesuai Protokol Kyoto, dimana komitmen tahap pertama akan berakhir pada 2012.
Dia menjelaskan sikap Jepang dan Rusia tersebut dapat mengakibatkan Protokol Kyoto tidak diberlakukan kembali, padahal Protokol tersebut menjadi dasar legal perdagangan karbon secara global.
Delegasi Republik Indonesia menyatakan aktif dalam perundingan di KTT (COP) ke-16 Perubahan Iklim dari Badan PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Cancun Meksiko untuk mencari solusi dari kebuntuan kelanjutan komitmen negara-negara Annex-1 mengurangi emisi karbondioksida sesuai Protokol Kyoto.
"Kita terlibat dalam pembahasan dan aktif dalam konsultasi yang diundang oleh presidensial Meksiko sebagai tuan rumah," kata Ketua Tim Negosiasi Delri, Tazwin Hanif yang ditemui di sela-sela negosiasi KTT ke-16 di Cancun, Jumat (4/12).
Tazwin menyatakan hal tersebut menanggapi pernyataan Jepang dan Rusia yang tidak mau melanjutkan komitmen penurunan emisi karbondioksida sesuai Protokol Kyoto, dimana komitmen tahap pertama akan berakhir pada 2012.
Ia menjelaskan mengatakan pembahasan komitmen kedua dari negara Annex-1 dalam Protokol Kyoto masih terus dalam perundingan dibawah jalur Protokol Kyoto (AWG-KP).
Indonesia juga menjadi salah satu negara selain beberapa negara berkembang dan negara maju yang diundang oleh tuan rumah untuk membahas kelanjutan Protokol Kyoto.
Sebenarnya pernyataan Jepang telah disampaikan pada Pertemuan Perubahan Iklim di Tianjin China pada Oktober 2010.
"Jepang mundur dari Protokol Kyoto karena putus ada dengan Amerika yang tidak kunjung bergabung dalam Protokol Kyoto," katanya.
Sementara posisi Delri menyatakan agar Protokol Kyoto tetap ada dan dilanjutkan.
Tazwin mengatakan Delri akan tetap berjuang pada dua jalur negosiasi yaitu pada negosiasi Protokol Kyoto dan negosiasi dibawah Kerangka Aksi Jangka Panjang (AWG-LCA).
Sumber: (ANT/A024)
Langganan:
Postingan (Atom)